BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Kupastuntas.co, Lampung Selatan – Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, mengalami tiga kali erupsi pada Minggu (18/10/2026). Letusan tertinggi menghasilkan kolom abu setinggi 500 meter di atas puncak atau sekitar 657 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno, menjelaskan aktivitas erupsi tersebut tercatat oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada Minggu.
Erupsi pertama teramati pada pukul 11.44 WIB. Saat itu, kolom abu berwarna hitam dengan intensitas tebal dan bergerak condong ke arah utara.
Letusan kedua terjadi pada pukul 12.01 WIB dengan tinggi kolom abu mencapai 500 meter di atas puncak. Abu vulkanik yang teramati berwarna hitam, berintensitas tebal, dan mengarah ke utara. Aktivitas tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 51 milimeter dan durasi 41 detik.
Selanjutnya, erupsi ketiga tercatat pada pukul 12.59 WIB. Kolom abu teramati mencapai ketinggian sekitar 100 meter di atas puncak atau 257 meter di atas permukaan laut. Abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah timur laut.
Erupsi ketiga tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 56 milimeter dan durasi sekitar 36 detik.
Suwarno menggarisbawahi, Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat maupun pengunjung diminta tidak mendekati gunung api dan tidak melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah aktif.
Ia menjelaskan, pemantauan aktivitas vulkanik dilakukan secara intensif selama 24 jam melalui pengamatan visual dan instrumental. Langkah tersebut bertujuan memantau perkembangan kondisi gunung api sekaligus menjadi dasar dalam menentukan upaya mitigasi terhadap potensi bahaya.
Selain itu, nelayan yang beraktivitas di perairan Selat Sunda diingatkan untuk memperhatikan informasi resmi mengenai aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau serta kondisi cuaca sebelum melaut.
Masyarakat juga diimbau tidak mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan menjadikan keterangan dari lembaga berwenang sebagai acuan.
Suwarno mengharapkan masyarakat terus mematuhi rekomendasi keselamatan dan mengikuti perkembangan informasi secara berkala untuk mengurangi risiko bencana di kawasan Gunung Anak Krakatau. (*)