BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan memberikan insentif bagi pemerintah daerah (Pemda) yang berhasil mencegah kebocoran sampah ke laut.
Selain itu KKP juga tengah menyiapkan skema disinsentif bagi pemda dalam pengelolaan sampah. Kebijakan tersebut akan dimuat dalam Peraturan Presiden (Perpres) tentang Pengelolaan Sampah Nasional yang masih difinalisasi.
Direktur Jenderal
Pengelolaan Kelautan KKP A Koswara menyampaikan insentif akan disiapkan untuk
daerah yang berhasil mencegah hingga mengelola sampah sehingga tidak mencemari
laut. Sebaliknya, daerah yang masih menyebabkan kebocoran sampah ke laut akan
dikenai disinsentif.
"Nah kalau ini sudah final Perpresnya, kita
nanti akan ada penilaian. Daerah-daerah yang masih bocor sampahnya ke laut itu
dikenakan disinsentif. Yang sudah bagus, yang sudah berhasil mengolah sampahnya
dengan baik di wilayah masing-masing diberikan insentif dan penghargaan. Nah
kita dorong seperti itu, kita kuatkan di dalam Perpres," kata Koswara
dalam konferensi pers usai aktivitas bersih-bersih Pantai Petitenget, Badung,
Bali, Jumat (12/6/2026) dikutip Detik.com.
Insentifnya masih digodok KKP, namun bisa
berbentuk apresiasi, fiskal, hingga program. Kepastiannya masih akan dibahas
dengan kementerian dan lembaga lainnya.
Saat ini diperkirakan 20 juta ton sampah masuk ke
laut setiap tahunnya. Menurutnya, persoalan tersebut tidak mungkin diselesaikan
hanya dengan mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),
melainkan membutuhkan kolaborasi pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat.
"Saat ini diperkirakan sekitar 20 juta ton
sampah masuk ke laut setiap tahunnya. Jumlah ini tentu bisa dikurangi apabila
seluruh pihak bergerak bersama. Kalau hanya mengandalkan APBN, tentu tidak
mungkin persoalan ini dapat diselesaikan," katanya.
Koswara mengajak
masyarakat ikut berperan mencegah sampah masuk ke laut. Menurutnya, kondisi
laut sangat dipengaruhi oleh aktivitas di daratan karena sampah plastik yang
mencemari laut berasal dari aktivitas manusia.
"Kita harus menyadari bahwa kondisi laut
sangat dipengaruhi aktivitas di darat. Sampah plastik tidak muncul dengan
sendirinya di laut. Yang memproduksi sampah plastik adalah kita semua. Karena
itu, kita pula yang harus menjaganya, menguranginya, dan memastikan sampah
tersebut tidak berakhir di laut," tegasnya.
Koswara menyebut, berdasarkan regulasi yang
berlaku, tanggung jawab pengelolaan sampah berada di sumbernya. Artinya, rumah
tangga, hotel, restoran, hingga pihak lain yang menghasilkan sampah bertanggung
jawab atas pengelolaannya.
Ia menyampaikan, langkah paling sederhana yang dapat
dilakukan adalah memilah sampah sejak dari sumber. Dengan pemilahan, proses
pengolahan dan daur ulang akan menjadi lebih mudah sekaligus menekan biaya
pengelolaan.
"Yang paling sederhana, yang paling kecil itu
memilah. Karena dengan memilah, maka proses berikutnya akan sangat mudah untuk
mengelola sampah," ujarnya.
Koswara mencontohkan, beberapa hotel dan restoran
di Bali telah bekerja sama dengan TPS 3R maupun perusahaan daur ulang untuk
mengelola sampahnya sendiri. Hasilnya, sampah yang berakhir di tempat
pemrosesan akhir (TPA) hanya sekitar 25%.
Menurutnya, hampir separuh proses dalam teknologi
pengolahan sampah saat ini merupakan proses pemilahan. Apabila sampah sudah
dipilah sejak awal, proses daur ulang menjadi jauh lebih mudah. Sebaliknya,
jika sampah masih bercampur, teknologi yang dibutuhkan menjadi jauh lebih mahal.
Ia juga mencontohkan teknologi daur ulang plastik
saat ini sudah berkembang pesat hingga mampu menghasilkan produk bernilai
tinggi yang diekspor. Namun, tanpa kesadaran masyarakat untuk memilah sampah
dari sumbernya, pemanfaatan teknologi tersebut tidak akan optimal.
Koswara juga menuturkan pemerintah kini
mengedepankan strategi pencegahan dibanding mengangkat sampah yang sudah
telanjur mencemari laut. Menurutnya, biaya membersihkan sampah di laut jauh
lebih besar, sementara ekosistem sudah terlanjur terdampak.
"Kalau sudah masuk ke laut itu susah,
biayanya tinggi untuk mengambilnya kembali dan pasti sudah mempengaruhi
ekosistem. Makanya strategi kita di dalam mengelola sampah supaya tidak masuk
ke laut dilakukan dengan pencegahan," pungkasnya.