BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Kedatangan Presiden RI Prabowo Subianto ke Provinsi Lampung diwarnai aksi demonstrasi yang digelar Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Eksekutif Wilayah Lampung di Bundaran Tugu Adipura, Bandar Lampung, Rabu (10/6/2026).
Aksi yang berlangsung di bawah terik matahari itu menyita perhatian masyarakat karena diwarnai teatrikal jahit mulut yang dilakukan tiga peserta menggunakan benang medis. Massa juga membakar spanduk berwarna hijau bercorak loreng sebagai simbol penolakan terhadap apa yang mereka sebut sebagai remiliterisasi ruang sipil.
Dengan membawa bendera organisasi dan beberapa spanduk tuntutan, para mahasiswa secara bergantian menyampaikan orasi yang menyoroti berbagai isu, mulai dari kondisi ekonomi, pendidikan, hingga keterlibatan militer dalam urusan sipil.
Koordinator aksi, Josua Sitorus, menyampaikan aksi jahit mulut tersebut merupakan simbol kritik terhadap kondisi demokrasi yang dinilai semakin terancam oleh menguatnya budaya militerisme di ruang sipil.
"Kita melihat betapa kuatnya militer membungkam suara-suara sipil. Sipil tidak punya senjata, hanya memiliki suara dan pikiran kritis, tetapi dibungkam dengan budaya militer yang dipaksa masuk ke ruang sipil. Jahit mulut ini menggambarkan situasi Indonesia yang semakin otoriter," kata Josua.
Menurutnya, aksi tersebut tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga menjadi bentuk protes terhadap berbagai persoalan sosial dan ekonomi yang dinilai semakin dirasakan masyarakat.
"Kita harus mengkritisi bahwa rakyat sedang susah. Di sisi lain, masih banyak masyarakat yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup, sementara banyak anak muda belum mendapatkan kepastian pekerjaan," ujarnya.
Dalam aksi tersebut, LMND Lampung menyampaikan lima tuntutan kepada pemerintah. Pertama, penerapan pajak kekayaan (wealth tax) bagi kelompok masyarakat kaya untuk mengurangi ketimpangan ekonomi.
Menurut Josua, distribusi kekayaan nasional saat ini dinilai belum mencerminkan prinsip keadilan sosial karena sebagian besar kekayaan masih terkonsentrasi pada kelompok tertentu.
"Sudah saatnya orang kaya dikenakan pajak kekayaan agar manfaat pembangunan daerah dapat dirasakan lebih merata oleh seluruh rakyat," tegasnya.
Tuntutan kedua adalah mewujudkan pendidikan yang gratis, ilmiah, dan demokratis bagi seluruh masyarakat. Mahasiswa menilai akses pendidikan yang setara masih menjadi tantangan, terutama bagi kelompok masyarakat kurang mampu.
"Kita sering mendengar besarnya anggaran pendidikan, tetapi di lapangan masih banyak anak yang kesulitan mengakses pendidikan karena faktor ekonomi," katanya.
Tuntutan ketiga adalah menghentikan remiliterisasi ruang sipil. Isu ini menjadi salah satu fokus utama aksi yang ditunjukkan melalui pembakaran spanduk bercorak loreng.
LMND menilai keterlibatan militer di berbagai sektor sipil semakin meluas dan berpotensi mengurangi ruang partisipasi masyarakat sipil dalam proses pembangunan daerah.
Selain itu, mahasiswa juga menyoroti kondisi ekonomi nasional, khususnya pelemahan nilai tukar rupiah dan dampaknya terhadap harga kebutuhan masyarakat, termasuk potensi tekanan terhadap subsidi bahan bakar minyak akibat tingginya ketergantungan impor energi.
"Persoalan BBM menjadi perhatian serius. Ketika rupiah melemah dan ketergantungan impor minyak masih tinggi, beban ekonomi masyarakat bisa semakin berat," ujar Josua.
Tuntutan terakhir adalah evaluasi terhadap beberapa program prioritas pemerintahan Prabowo, seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes). Mahasiswa meminta pemerintah memastikan penggunaan anggaran negara benar-benar efektif dan menjawab kebutuhan masyarakat.
"Kami meminta program-program yang menyerap anggaran besar dievaluasi secara menyeluruh. Pemerintah harus memastikan APBN digunakan untuk menjawab kebutuhan mendesak rakyat," pungkasnya.
Aksi berlangsung di bawah pengawasan aparat kepolisian dan berjalan tertib hingga seluruh rangkaian acara selesai. Kehadiran mahasiswa dengan aksi teatrikal tersebut menjadi salah satu bentuk penyampaian aspirasi publik di tengah kunjungan Presiden Prabowo ke Lampung.