BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
- infrastruktur dan pengembangan Jembatan Way Bungur di Kabupaten Lampung Timur yang sempat viral dan menjadi sorotan publik belum dapat segera direalisasikan.
Proyek tersebut masih menunggu penyelesaian pembebasan lahan oleh pemerintah daerah sebelum penganggaran dan pelaksanaan pekerjaan dapat dilakukan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Lampung, Giri Yudhono, mengungkapkan pembebasan lahan menjadi tahapan penting yang harus dituntaskan agar infrastruktur dan pengembangan jembatan dapat berjalan tanpa terkendala persoalan lahan di kemudian hari.
“Kalau lahannya sudah bisa segera dibebaskan, penganggarannya akan segera mengikuti,” ujarnya.
Menurut Giri, kepastian status lahan diperlukan sebelum proyek dimulai.
Dengan demikian, pelaksanaan infrastruktur dan pengembangan dapat berjalan lebih lancar tanpa menghadapi persoalan yang berpotensi menghambat pekerjaan.
Ia menekankan, infrastruktur dan pengembangan Jembatan Way Bungur telah menjadi perhatian pimpinan di tingkat kementerian.
Karena itu, proyek tersebut diharapkan dapat segera direalisasikan setelah persoalan pembebasan lahan diselesaikan.
“Intinya, proyek ini sudah menjadi atensi pimpinan di kementerian dan insyaallah akan dikerjakan,” tegasnya.
Giri menjelaskan, proses pembebasan lahan merupakan tanggung jawab pemerintah daerah.
Dengan demikian, penyelesaian tahapan tersebut menjadi salah satu faktor penentu agar infrastruktur dan pengembangan jembatan dapat berlanjut ke tahap berikutnya.
Meski demikian, BPJN Lampung belum menyampaikan kepastian waktu dimulainya infrastruktur dan pengembangan.
Realisasi proyek masih bergantung pada penyelesaian pembebasan lahan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah.
Kondisi ini membuat perkembangan Jembatan Way Bungur masih perlu mendapat perhatian, terutama terkait sejauh mana proses pembebasan lahan telah berjalan dan kapan dapat dituntaskan.
Diketahui sebelumnya, Jembatan Way Bungur di Desa Kali Pasir, Kecamatan Way Bungur, Kabupaten Lampung Timur, menjadi sorotan publik pada awal Februari 2026.
Saat itu, video warga dan pelajar menyeberangi Sungai Batanghari menggunakan rakit atau getek viral di media sosial.
Kondisi tersebut memprihatinkan karena rakit kayu digunakan untuk mengangkut warga sekaligus sepeda motor.
Para pelajar harus mengantre dan menyeberang secara bergantian untuk pergi ke sekolah.
beragam siswa bahkan mengaku kerap terlambat karena lamanya waktu penyeberangan.
Viralnya video tersebut mendorong perhatian pemerintah terhadap kebutuhan jembatan penghubung di wilayah itu.
Pada 1 April 2026, infrastruktur dan pengembangan Jembatan Gantung Garuda sepanjang 120 meter di Desa Kali Pasir mulai dilakukan sebagai bagian dari upaya membuka akses bagi masyarakat. (*)