Friday, 30 October 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

BGN Targetkan 10.000 SPPG Layani MBG Prasmanan hingga Akhir 2026

30 October 2026 09:00 WIB
Oleh: Dewi Kartika
Dibaca: 8 kali
Bagikan:
BGN Targetkan 10.000 SPPG Layani MBG Prasmanan hingga Akhir 2026
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Badan Gizi Nasional (BGN) berencana memperluas penerapan sistem prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga penghujung 2026, sebanyak 5.000 hingga 10.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ditargetkan sudah menggunakan metode tersebut.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkapkan, metode prasmanan ini diterapkan dengan tujuan untuk memastikan makanan disajikan dalam kondisi hangat dan sesuai dengan kebutuhan gizi siswa.

"Target saya adalah sampai dengan akhir tahun, untuk mengurangi keracunan, makanan-makanan rusak, gangguan kesehatan, dan paling diminati oleh siswa ini. Maka kami mengharapkan sampai dengan akhir tahun, kita bisa implementasi MBG Prasmanan ini 5.000 sampai dengan 10.000 dapur sudah bisa mengimplementasikan ini (prasmanan)," ujar Sudaryono dalam penyampaian capaian 100 Hari Kerja, di Jakarta Selatan, Kamis (29/10/2026), dikutip dari siaran Youtube BGN.

Ia menjelaskan, uji coba metode MBG prasmanan telah dilakukan di 66 dapur dan akan diperluas ke sekitar 230 dapur tambahan.

Dalam hasil pelaksanaan tahap awal, kata Sudaryono, dinilai positif dan belum ditemukannya kasus keracunan.

Lewat metode prasmanan, siswa tidak diharuskan berkumpul di satu tempat untuk mengambil menu MBG. Penyajian dilakukan di masing-masing kelas sesuai dengan jumlah siswa dan makanan dapat langsung dikonsumsi dalam kondisi hangat.

"Kalau di kelas ada 30 orang, dia bawa 30 porsi nasi, sayur, lauk, ditaruh di kelas, dia sajikan, dia makan, dia beresin, kemudian selesai. Jadi hangat-hangat, enggak perlu diangetin karena dibawanya hangat-hangat, dijaga suhunya di 60 derajat minimal," kata Sudaryono.

Metode prasmanan ini juga memungkinkan siswa mengambil tambahan makanan apabila masih lapar, selama tetap sesuai dengan ketentuan porsi dan kebutuhan gizi. Dengan demikian, Sudaryono mengungkapkan bahwa makanan yang disediakan dapat dikonsumsi secara optimal dan risiko makanan tersisa dapat ditekan.

"Jadi orangnya dapat porsi sesuai dengan takaran gizinya tapi masih ada spare, nah spare-nya itu orang bisa, kalau masih lapar bisa nambah jadi ini, so far so good dan kami ingin ini mandatory, harus diselenggarakan seluas-luasnya terhadap semua dapur dan semua sekolah," ujar Sudaryono.

Sudaryono menyebut penerapan metode ini juga mengacu pada praktik penyediaan makanan di sebagian negara, termasuk Jepang dan negara-negara Eropa.

"Ini adalah best practice yang kami belajar dari banyak negara dan beberapa negara salah satunya Jepang, kemudian ada dari Eropa juga kami lihat, caranya sama. Jadi sebetulnya ini best practice bukan karangan saya," ujar Sudaryono. (*)

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari