BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
gorong atau jembatan kecil yang berada di jalur utama Pekon Atar Lebar menuju Pekon Sanggi Unggak, ambrol, Jumat (30/10/2026) sekitar pukul 15.00 WIB. Akibatnya, akses jalan antar dua pekon di Kecamatan Bandar Negeri Semuong, Kabupaten Tanggamus, hampir putus.
Lebih dari separuh badan jalan runtuh ke jurang sedalam sekitar 10 meter setelah wilayah tersebut diguyur hujan berintensitas tinggi selama tiga hari berturut-turut.
Kendaraan roda empat tidak bisa melintas. Bahkan, sebuah ambulans yang membawa pasien setelah menjalani operasi terpaksa terhalang di jalur tersebut.
Kini, warga hanya mengandalkan jembatan darurat dari batang pohon kelapa untuk mempertahankan akses. Namun, lintasan seadanya itu hanya bisa dilewati sepeda motor dan sangat berisiko, terutama ketika hujan membuat permukaannya licin.
Kerusakan tersebut bukan sekadar mengganggu arus lalu lintas. Ambrolnya gorong-gorong telah memukul aktivitas masyarakat karena jalur itu merupakan akses utama menuju Pekon Sanggi Unggak, Pekon Sanggi, pasar, Puskesmas, kantor kecamatan, serta beragam sekolah. Tanpa jalan alternatif, warga dan pelajar harus menghadapi keterbatasan akses setiap hari.
Gorong-gorong itu berada sekitar 50 meter dari Jembatan Way Tuba, di perbatasan Pekon Sanggi Unggak dan Pekon Atar Lebar.
Jalur tersebut menjadi penghubung penting bagi masyarakat Atar Lebar yang berada di kawasan pegunungan dengan wilayah luar, termasuk akses menuju Jalan Lintas Barat ke Kecamatan Semaka dan Wonosobo.
Kepala SDN 1 Atar Lebar, Sukwan menuturkan, jalan tersebut merupakan jalur vital yang menghubungkan beragam fasilitas publik dan pusat aktivitas masyarakat.
Selain menuju Pekon Sanggi Unggak dan Pekon Sanggi, jalan itu menjadi akses menuju Kantor Kecamatan Bandar Negeri Semuong, Puskesmas Sanggi, SMPN 1 Bandar Negeri Semuong, serta pasar.
"Bahkan menghubungkan dunia luar seperti Jalan Lintas Barat, baik menuju ke Kecamatan Semaka atau ke Kecamatan Wonosobo, karena Pekon Atar Lebar ini berada di pegunungan," kata Sukwan, Sabtu (31/10/2026).
Menurut dia, kerusakan jalan tersebut berdampak langsung terhadap mobilitas masyarakat, termasuk aktivitas pendidikan. Pelajar yang setiap hari menggunakan jalur itu menghadapi kesulitan untuk berangkat maupun pulang sekolah.
Persoalan semakin serius karena jalan tersebut juga menjadi jalur kendaraan pengangkut hasil bumi. Ikhwan, warga Pekon Atar Lebar, menuturkan kendaraan roda dua, roda empat, hingga truk pengangkut hasil pertanian setiap hari melintasi jalan tersebut.
Dia mengungkapkan, tanda-tanda kerusakan sebenarnya sudah terlihat sebelum gorong-gorong ambrol. Dimana bagian kiri jalan lebih dahulu mengalami longsor sehingga tanah dan aspalnya habis. Untuk mempertahankan akses, warga terpaksa memasang jembatan darurat dari bilah batang pohon kelapa.
Namun, hujan berintensitas tinggi selama tiga hari berturut-turut disertai derasnya aliran air dari kawasan perbukitan membuat bagian kanan gorong-gorong yang masih tersisa akhirnya jebol dan runtuh ke jurang.
"Ditambah tergerus air hujan karena intensitas hujan tinggi dan derasnya aliran air dari perbukitan, mengakibatkan gorong-gorong ambrol," ungkap Ikhwan.
Menurut dia, jembatan darurat yang dibuat warga hanya menjadi solusi sementara. Kendaraan roda empat dari arah Sanggi Unggak menuju Atar Lebar maupun sebaliknya kini tidak bisa melintas.
"Jadi kalau ada mobil yang dari arah Sanggi Unggak menuju Atar Lebar dan sebaliknya ya tidak bisa. Hanya motor yang bisa lewat, itu pun harus hati-hati karena jembatan darurat itu licin," ujarnya.
Risiko kecelakaan tidak bisa dianggap sepele. Pengendara sepeda motor harus melewati batang pohon kelapa dengan permukaan licin, sementara di sisi jalur tersebut terbentang jurang sedalam kurang lebih 10 meter. Kondisi ini sangat membahayakan, terlebih ketika hujan kembali turun.
Dampak kerusakan juga terlihat dari terhambatnya sebuah ambulans yang membawa pasien setelah menjalani operasi. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa kerusakan satu titik infrastruktur dapat menghambat pelayanan kesehatan masyarakat, bukan hanya perjalanan kendaraan biasa.
Wulandari, warga lainnya, mengharapkan Pemerintah Kabupaten Tanggamus segera memperbaiki gorong-gorong tersebut. Dia menilai kondisi itu sangat membahayakan keselamatan pengguna jalan.
"Mungkin karena saking keringnya tanah, jadi begitu terkena air langsung longsor, dan gorong-gorong ambrol ke dalam jurang," kata Wulandari.
Dia mengharapkan pemerintah segera turun tangan karena masyarakat tidak memiliki jalur alternatif untuk keluar masuk pekon.
Ambrolnya gorong-gorong tersebut semestinya menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Tanggamus, khususnya BPBD dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).
Penanganan darurat diperlukan untuk memastikan keselamatan warga, sekaligus membuka kembali akses transportasi yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat.
Pemerintah tidak cukup hanya menunggu kerusakan semakin parah atau kecelakaan terjadi. Kondisi jalan yang nyaris putus, tidak adanya jalur alternatif, serta terhambatnya ambulans dan aktivitas pelajar merupakan alasan kuat bagi instansi terkait untuk segera mengambil tindakan.
Warga Atar Lebar kini membutuhkan kepastian penanganan, bukan sekadar solusi darurat dari batang pohon kelapa. Sebab, akses jalan yang aman merupakan kebutuhan dasar masyarakat untuk mendapatkan pendidikan, pelayanan kesehatan, menjalankan aktivitas ekonomi, dan terhubung dengan wilayah lain.