Tuesday, 20 October 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Parosil: Literasi Bukan Sekadar Membaca, tapi Jalan Keluar dari Kemiskinan

20 October 2026 14:00 WIB
Oleh: Dewi Kartika
Dibaca: 5 kali
Bagikan:
Parosil: Literasi Bukan Sekadar Membaca, tapi Jalan Keluar dari Kemiskinan
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Di tengah tantangan kemiskinan dan maraknya penipuan keuangan digital, literasi dinilai perlu ditempatkan lebih dari sekadar gerakan membaca buku. Kemampuan memahami informasi, mengembangkan kreativitas, hingga mengambil keputusan keuangan secara bijak menjadi bagian penting yang dapat membantu masyarakat memperbaiki kehidupan. Hal inilah yang ditekankan Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus, saat membuka Festival Literasi 2026 di pelataran Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lampung Barat, Selasa (20/10/2026).

Parosil memastikan, literasi memiliki peran strategis dalam membuka wawasan dan memperluas kesempatan masyarakat untuk keluar dari berbagai persoalan, termasuk kemiskinan. Menurutnya, membaca tidak boleh berhenti pada agenda memperoleh pengetahuan, tetapi harus mampu mendorong seseorang berpikir lebih kreatif, produktif, serta menemukan solusi atas persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

"Literasi itu membuka wawasan, membuka cakrawala, jendela dunia. Semua muaranya itu literasi. Kalau produktif, dia bisa menyelesaikan semua persoalan," tegas Parosil.

Menurut Parosil, kemampuan memahami informasi dan mengolah pengetahuan menjadi salah satu modal penting untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Ia menilai, masyarakat yang memiliki wawasan luas akan lebih mampu melihat peluang, mengembangkan potensi, dan mencari jalan keluar dari kesulitan yang dihadapi. Karena itu, literasi perlu dipahami sebagai salah satu fondasi untuk mendorong peningkatan kesejahteraan, bukan sebatas agenda membaca yang bersifat seremonial.

Ia juga menekankan bahwa gerakan literasi tidak dapat hanya mengandalkan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan. Seluruh perangkat daerah perlu mengambil bagian sesuai dengan tugas dan bidang masing-masing agar manfaat literasi dapat menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Kolaborasi tersebut dinilai penting supaya pengetahuan yang diperoleh masyarakat dapat diterapkan dalam sektor pendidikan, ekonomi, sosial, hingga pengembangan usaha produktif.

"Membaca itu melahirkan kreativitas. Hari ini kita bicara hilirisasi, merubah bentuk dan merubah rasa," kata Parosil.

Pernyataan tersebut memastikan pentingnya mengubah pengetahuan menjadi sesuatu yang memiliki nilai tambah. Menurut Parosil, literasi semestinya mampu mendorong masyarakat untuk tidak hanya memahami suatu informasi, tetapi juga mengembangkan ide dan kreativitas menjadi agenda yang produktif. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh melalui agenda membaca diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat dan mendukung upaya peningkatan kesejahteraan di Lampung Barat.

Parosil juga meminta para pegiat literasi terus menjaga keberlangsungan gerakan tersebut agar tidak berhenti pada pelaksanaan festival. Ia menilai, konsistensi menjadi salah satu faktor penting dalam membangun kebiasaan membaca dan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memahami berbagai informasi. Menurutnya, literasi merupakan investasi jangka panjang yang dapat membuka peluang lebih baik bagi generasi muda sekaligus mendukung masa depan Kabupaten Lampung Barat.

Namun, penguatan literasi dalam Festival Literasi 2026 tidak hanya diarahkan pada peningkatan minat baca. Pemerintah Kabupaten Lampung Barat juga menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung untuk menghadirkan pojok literasi keuangan. Langkah tersebut menjadi relevan di tengah perkembangan layanan keuangan digital yang semakin mudah diakses masyarakat, tetapi juga diiringi risiko pinjaman online ilegal, investasi bodong, dan berbagai bentuk penipuan yang dapat merugikan warga.

Deputi Direktur Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK Lampung, Ety Elyati, menyampaikan keterlibatan OJK dalam agenda tersebut merupakan bagian dari Gerakan Nasional Cerdas Keuangan atau Gencarkan. Melalui gerakan itu, masyarakat didorong untuk meningkatkan pemahaman mengenai produk dan layanan keuangan sehingga dapat mengambil keputusan secara lebih cermat serta terhindar dari praktik keuangan ilegal.

Ety menjelaskan, salah satu hal yang perlu dipahami masyarakat adalah prinsip 2L, yakni Legal dan Logis. Prinsip tersebut dapat menjadi pedoman sederhana sebelum seseorang menggunakan layanan keuangan atau menerima tawaran investasi. Masyarakat perlu memastikan legalitas penyedia layanan sekaligus menilai kewajaran keuntungan yang ditawarkan agar tidak mudah terjebak dalam penawaran yang terlihat menggiurkan, tetapi berpotensi menimbulkan kerugian.

"Legal artinya memastikan produk keuangan terdaftar dan diawasi OJK. Logis artinya tidak tergiur keuntungan yang tidak masuk akal," ujar Ety.

Ia memiliki harapan, melalui edukasi tersebut, masyarakat semakin mampu mengenali berbagai modus penipuan keuangan dan memahami langkah yang perlu dilakukan ketika menemukan aktivitas mencurigakan. Ety juga mengingatkan pentingnya tindakan Kenali, Cegah, dan Lapor apabila masyarakat menemukan indikasi aktivitas keuangan ilegal, investasi bodong, maupun pinjaman online ilegal. Pemahaman tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat lebih berhati-hati sebelum menyerahkan uang atau data pribadi kepada pihak yang belum jelas legalitasnya.

Kehadiran pojok literasi keuangan juga memperluas pemahaman mengenai pentingnya literasi dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat tidak cukup hanya mampu mengakses informasi, tetapi juga harus bisa menilai kebenaran, memahami risiko, dan membedakan penawaran yang masuk akal dari tawaran yang berpotensi merugikan. Dengan bekal tersebut, masyarakat diharapkan dapat mengelola keuangan secara lebih bijak sekaligus melindungi diri dan keluarga dari praktik penipuan.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lampung Barat, Dahlin, menyampaikan Festival Literasi 2026 yang didukung Perpustakaan Nasional dirancang untuk mempermudah masyarakat mengakses informasi. agenda tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan literasi sekaligus mendorong masyarakat agar semakin dekat dengan sumber pengetahuan yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas diri.

Dahlin menjelaskan, kerja sama dengan OJK Provinsi Lampung menjadi salah satu upaya untuk menjawab tantangan literasi di tengah perkembangan teknologi digital. Arus informasi dan penawaran layanan keuangan yang semakin cepat menuntut masyarakat memiliki pemahaman yang memadai agar tidak mudah terpengaruh informasi menyesatkan. Melalui edukasi keuangan, masyarakat diharapkan dapat mengenali risiko, mengelola keuangan secara lebih baik, dan menghindari kerugian akibat penipuan.

"Tujuannya supaya keuangan masyarakat bisa terkelola dan terhindar dari penipuan," tutup Dahlin.

Melalui Festival Literasi 2026, penguatan budaya membaca dan edukasi keuangan diharapkan dapat berjalan beriringan. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengetahuan yang diperoleh masyarakat tidak berhenti pada agenda festival, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan literasi yang berkelanjutan, masyarakat diharapkan semakin mampu mengembangkan potensi, memanfaatkan peluang produktif, serta mengambil keputusan yang lebih tepat untuk mendukung peningkatan kesejahteraan dan upaya keluar dari kemiskinan. (*)

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari